Pengaruh sebuah tulisan ikut ditentukan oleh otoritas penulisnya. Sampai pada titik tertentu, isu otoritas juga berkaitan dengan minat pembaca untuk menyimak sebuah tulisan. Tulisan seorang gurubesar, secara normatif, pasti lebih menarik perhatian ketimbang tulisan mahasiswa. Tulisan Jenderal pasti dipandang lebih otoritatif dibanding tulisan kopral.

Per definisi sempit otoritas adalah kekuasaan atau wewenang yang sah untuk melakukan tindakan tertentu sesuai fungsinya dan untuk memerintah orang lain. Dalam hal ini, definisi otoritas sangat erat dan sarat dengan elemen legalitas. Dengan kata lain definisi otoritas sangat bias pada otoritas formal.

Dalam dunia kepenulisan populer, otoritas penulis lebih dikaitkan dengan kompetensi ketimbang wewenang formal atau keabsahan otoritas yang melekat pada penulis. Apakah seorang penulis memiliki kompetensi membahas isu yang ditulisnya? Seberapa mendalam kompetensi itu ada padanya; apakah ia memperolehnya lewat pendidikan formal yang serius atau lewat pengalaman menangani masalah-masalah yang ia ulas? Bagaimana reputasi penulis dalam bidang yang ia tulis? Otoritas semacam ini umumnya dapat ditelusuri dari rekam jejak maupun riwayat hidup (curicullum vitae) penulis.

Sesungguhnya, di atas semua itu, ada dimensi otoritas lain yang jauh lebih tinggi dan penting. Bahkan pada media tertentu inilah otoritas yang paling tinggi. Setiap redaktur yang bertanggung jawab harus memberikan perhatian dan prioritas utama pada otoritas ini meskipun tidak jarang mereka tak berani mengambil risiko dan terpaksa menempatkannya di bawah otoritas formal.

Yang saya maksud di sini adalah otoritas tulisan itu sendiri. Sebuah tulisan memiliki otoritasnya. Idealnya, otoritas sebuah tulisan setara dan berbanding lurus dengan otoritas penulisnya. Namun hal itu tidak boleh disetujui begitu saja, kita terima dengan mata tertutup, taken for granted. Seorang redaktur harus menguji kesesuaian keduanya.

Buku-buku tentang kepenulisan selalu mengajarkan bahwa sebuah tulisan yang baik mampu menunjukkan otoritasnya sendiri. Penulis yang baik akan memperlakukan tulisannya sebagai mahluk yang mandiri, yang sedapat mungkin mempertanggungjawabkan dirinya lewat isi semua yang terkandung di dalamnya.

Apa yang dimaksud sebagai otoritas tulisan atau tulisan yang berotoritas? Tidak lain tidak bukan adalah tulisan yang berhasil menunjukkan dan membuktikan (bukan sekadar memberitahukan) bahwa penulisnya memiliki otoritas dalam mengemukakan isi tulisannya, yang dengan meyakinkan disetujui oleh pembaca. Otoritas tersebut tampak dan dapat dilihat oleh pembaca lewat fakta, analisis, argumen dan keseluruhan bangunan tulisan, dan bukan oleh otoritas formal yang disandang oleh penulisnya.

Bagaimana penulis merumuskan tesis utama tulisannya? Apakah ia memiliki sesuatu yang baru untuk dikemukakan? Jika ia penulis mengenai isu-isu wisata, apakah tulisannya mampu meyakinkan Anda untuk mengunjungi tempat wisata yang direkomendasikannya? Jika ia biografer, apakah tulisannya memberikan gambaran yang lebih intim dan mengungkap yang selama ini belum diketahui publik tentang subjek biografi? Jika ia seorang reporter investigasi, apakah tulisan itu memberikan fakta-fakta valid walaupun mungkin diperoleh dari sumber-sumber tak resmi?

Bahan atau materi yang menjadi dasar tulisan juga menentukan otoritas tulisan. Bagaimana penulis tiba pada tesisnya? Apakah ia sudah membaca buku-buku referensi kredibel tentang itu? Apakah ia melakukan observasi langsung? Jika ia mengandalkan wawancara, apakah wawancara dilakukan dengan sumber-sumber kredibel dan sumber itu mengkonfirmasi hasil wawancara? Jika ia mengacu pada sumber-sumber tertulis, sejauh mana ia mendasarkannya pada sumber-sumber asli, bukan hanya pada ringkasan atau review orang lain?

Bagaimana diksi yang digunakannya, apakah mencermikan keakrabannya dengan hal yang ditulisnya? Apakah pengalaman-pengalaman yang diungkapkannya dapat dipercaya sebagai hal yang genuine?

Bagi seorang redaktur tentu jauh lebih sulit memberi penilaian terhadap otoritas sebuah tulisan ketimbang terhadap otoritas formal penulisnya. Tetapi bagaimanapun ia harus melakukannya. Ada banyak penyebab sebuah tulisan tidak memiliki otoritas yang sebanding dengan otoritas penulisnya. Kekurangan waktu melakukan riset, bukan topik yang benar- enar menjadi passionnya, atau menulis hanya karena kewajiban, merupakan penyebab yang acap kali jadi alasan. Plagiarisme oleh orang-orang yang memiliki otoritas formal juga sering disebabkan oleh alasan ini.

Ada sejumlah media yang memberi ruang sangat luas kepada para pejabat yang dipandang memiliki otoritas formal untuk mengisi kolom Opini, terutama apabila menyangkut isu-isu yang terkait dengan bidang si pemangku otoritas. Apabila dia menteri, jenderal, atau selebriti terkesan memiliki ‘jalan tol’ untuk dapat menembus birokrasi mengisi kolom Opini tersebut.

Hal itu tidak salah. Bagaimana pun otoritas formal yang disandang mereka tentu memiliki nilai tertentu yang dapat menambah otoritas tulisannya. Namun, yang utama tetaplah otoritas tulisan itu sendiri. Dalam hal ini tugas seorang redaktur memang menjadi tidak ringan.

RS Fatmawati, Jakarta, 11 Juni 2019.

Eben Ezer Siadari.

#WritingTopics

#WritingTopicsWithEben

Bahan Bacaan

Crosby, Harry H., Carter Duncan, The Committed Writer, Mastering Nonfiction Genres. New York: McGraw-Hill Book Company, 1986

Gingerich, Jon, Writing with Authority: A Primer, litreactor.com, 2012

Jassin, H.B., Surat-surat 1943-1983, Jakarta: Penerbit Gramedia,1984

Patter, Writing More than One Thing at the Same Time — Part Two, Authoring, patthomson.net, 2018