Tidak semua hal dapat dengan mudah dimengerti. Bahkan seandainya topik atau hal itu sudah sangat Anda kuasai, belum tentu semua hal mengenai topik itu bisa Anda terangkan dengan baik – dan lantas yang membaca atau yang mendengarkan penjelasan Anda memahaminya.

Tampaknya ini menjadi persoalan klasik. Tetapi bukan tidak ada solusinya. Dari pengalaman saya membantu penulisan maupun penyuntingan buku, isu ini sering kali menjadi penghalang –atau setidaknya melemahkan motivasi – klien untuk menulis. Ada yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena menganggap hal yang ia tulis belum secara gamblang menjelaskan seperti yang ia maksudkan.

Saya juga sering mendengar keluhan dari para tokoh yang akan menulis buku, bahwa semua gagasan sudah ada di dalam kepala. Tetapi ketika menuangkannya dalam tulisan, terbentur pada ketidak-yakinan bahwa pembaca akan memahami yang dikemukakan. Alasannya semata karena topik yang akan dia kemukakan itu dipandang tidak diakrabi pembaca dan sulit untuk menjelaskannya kepada kalangan awam.

Berikut ini adalah tujuh cara menjelaskan hal-hal sulit sehingga mudah dipahami, bahkan oleh audiens yang kita anggap paling awam. Tujuh cara ini tentu bukan suatu mantra sim salabim yang dengan seketika akan segera terlihat hasilnya. Tetap diperlukan ketekunan dan kesediaan untuk mempraktikkan dan melatihkannya, sampai menemukan ‘seni’nya yang benar-benar khas dan menjadi trade mark diri sendiri.

Tujuh cara ini sesungguhnya sudah menjadi resep generik, dan selalu diajarkan pada kelas-kelas menulis di mana pun. Tetapi acap kali dilupakan. Berikut ini saya ringkas dari buku The Committed Writer, Mastering Nonfiction Genres karya Harry H. Crosby dan Duncan A. Carter (McGrawhill Book 1986), dengan contoh-contoh yang lebih dekat dengan kehidupan keseharian kita.

(1) Buatlah perbandingan maupun kontras. Untuk menjelaskan suatu definisi atau pengertian tertentu, akan lebih mudah dengan mencari padanan kata (sinonim) yang mungkin lebih akrab bagi pembaca. Sebagai contoh, seorang dokter barangkali akan lebih dimengerti bila ia menyebut apa yang dialami oleh pasiennya itu adalah “gejala-gejala” dari penyakit tertentu, daripada menggunakan kata “simtom.”

Selain dengan mencari padanan kata, kita juga dapat membuat suatu hal lebih terang dengan menjelaskan lawan kata atau lawan maknanya. Sering kali hal itu dapat membuat pembaca lebih cepat dapat menangkap pengertiannya, dan bahkan mungkin lebih menghayatinya. Sebagai contoh dalam isu ekonomi di Indonesia, hampir mustahil dapat menjelaskan apa itu deflasi bila tak menyertakan penjelasan lawan maknanya, yaitu inflasi. Sebab inflasi lebih sering terjadi dalam perekonomian kita dan lebih akrab dalam keseharian pembaca. Secara anekdotal kerap dikatakan orang tidak bisa membayangkan bagaimana enaknya Surga apabila tak ada penjelasan tentang mengerikannya Neraka.

(2) Jelaskan Fungsi dan Signifikansinya. Sesuatu hal juga dapat menjadi jelas ketika kita menunjukkan fungsi atau kegunaannya dan seberapa penting ia diperlukan. Untuk menjelaskan apa itu magic jar, misalnya, tentu akan lebih mudah bila kita menjelaskan kegunaannya dalam memasak beras menjadi nasi. Dan bagaimana ia berbeda daripada menanak nasi dengan memakai periuk atau kukusan.

Pemenang Nobel Fisika (1988) Leon Max Lederman, pernah menelurkan istilah “Partikel Tuhan” untuk menjelaskan apa itu partikel Giggs Boson dalam Model Standar Fisika Partikel. Dalam Ilmu Fisika, partikel Higgs Boson merupakan partikel yang dianggap masih ‘hilang’ dalam Model Standar Fisika Partikel tersebut, padahal ia sangat penting dan menentukan dalam memberikan massa, yang selanjutnya menentukan apakah atom dan semesta akan tercipta atau tidak.

Begitu pentingnya peran partikel itu, sehingga dalam buku The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?, Leon Lederman menggambarkannya sebagai Partikel Tuhan. Penggunaan istilah ini membuat pengertian partikel Giggs Boson lebih dipahami. Lebih dari itu, ia menjadi populer meskipun sedikit kontroversial. Leon Max Lederman memang sudah cukup lama dikenal memiliki kemampuan luar biasa untuk menjelaskan seluk-beluk fisika subatomik yang rumit dan kompleks.

(3) Minta Bantuan Etimologi. Etimologi adalah cabang Ilmu Lingustik yang mempelajari asal-usul suatu kata. Dan bantuan ilmu ini sangat berguna ketika kita ingin menjelaskan sesuatu hal rumit menjadi mudah. Pengertian suatu kata, konsep, isu, bahkan peristiwa, sering kali lebih mudah dijelaskan dengan menjelaskan asal-usul katanya.

Sebagai contoh, untuk menjelaskan cara kerja dan pentingnya satelit Palapa, etimologi Palapa dari sumpah Mahapatih Gajah Mada di era Majapahit akan sangat membantu. Untuk menjelaskan bahwa daging ayam yang diperlukan untuk menyajikan hidangan Ayam Tangkap adalah benar-benar daging ayam pilihan, akan lebih mudah dan inspiratif bila menjelaskan etimologi Ayam Tangkap itu sendiri. (Ayam Tangkap disebut dengan nama demikian karena menggunakan bahan daging ayam kampung segar, dimana ayam kampung peliharaan itu harus ditangkap terlebih dahulu hidup-hidup sebelum dipotong dan dijadikan bahan masakan).

(4) Gunakan Ilustrasi. Ini adalah cara yang sangat jamak untuk menjelaskan sesuatu. Ada berbagai sumber ilustrasi yang dapat digunakan. Salah satu yang populer adalah dengan mengutip peristiwa yang sedang in di tengah masyarakat. Sebagai contoh, seorang penulis di media online Kumparan, menggunakan peristiwa munculnya akun Instagram @indonesaitanpafeminis sebagai titik berangkat untuk menjelaskan apa sesungguhnya gerakan feminisme di Indonesia, dengan mewawancarai Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin. Kemunculan akun Instagram dengan mengusung kampanye, “Tubuhku bukan milikku, melainkan Allah,” menjadi pintu masuk untuk menjelaskan gerakan feminisme.

Ada banyak sumber ilustrasi. Cerita-cerita rakyat yang populer sering kali dipakai. Karya sastra berupa novel pun dapat menjadi sumber ilustrasi. Biografi dan kutipan kata-kata orang terkenal juga seringkali menjadi ilustrasi yang menarik. Penulis-penulis berpengalaman kerap mengeksplorasi ilustrasi-ilustrasi metaforis untuk menjelaskan konsep yang rumit.

Paul Krugman, ekonom peraih Nobel untuk Ilmu Ekonomi tahun 2008, menganalogikan studi tentang pasar finansial di tahun 1970 dengan Dr. Pangloss dalam novel karya Voltaire, yang meyakini bahwa manusia hidup di dunia dengan segala kemungkinan-kemungkinan terbaik. Ilustrasi ini ia pergunakan untuk mengeritik optimisme ekonom pada pasar bebas di tahun 1970-an, menyusul terjadinya krisis ekonomi tahun 2008. Paul Krugman dikenal sebagai ekonom dan kolumnis yang mampu menjelaskan persamaan-persamaan matematis ekonomi dalam bahasa dan analogi sederhana.

(5) Jelaskan ciri-ciri, karakter, atau elemen-elemen dasar dari subjek tulisan. Untuk menyajikan suatu keterangan lebih mendalam, jelaslah diperlukan penguasaan atas topik yang akan ditulis. Tetapi yang lebih penting adalah kesabaran. Ada kalanya penulis kurang sabar atau merasa akan terlalu bertele-tele bila harus menjelaskan sesuatu dengan cara menunjukkan ciri-ciri atau elemen-elemen dasar dari subjek yang ingin dijelaskannya. Ini merupakan rintangan yang harus diatasi. Sebab, acap kali sabar atau tidaknya penulis menerangkan secara detail menentukan apakah pembaca akan melanjutkan membaca tulisan Anda atau berhenti karena tak mengerti.

(6) Jelaskan prosesnya. Ini hampir sama dengan nomor 5. Suatu subjek atau isu atau definisi seringkali memiliki proses, tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan. Penjelasan proses ini dapat memberi pemahaman yang lebih kuat kepada pembaca.

Sebagai contoh, untuk menjelaskan apa itu yang dimaksud dengan Revolusi Industri 4.0, tentu akan lebih mudah dengan terlebih dahulu menunjukkan dahsyatnya revolusi industri abad 19, yang dipandang sebagai Revolusi Industri 1.0. Secara etimologis apa yang terjadi pada abad 19 itu merupakan asal dari lahirnya kata Revolusi Industri itu sendiri.

Revolusi Industri pada awalnya dipakai untuk mengacu pada periode 1750-1850 ketika perubahan secara besar-besaran terjadi di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang berdampak luas dan mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi dan peradaban dunia. Perubahan ini dimulai dengan ditemukannya mesin uap dalam proses produksi barang, yang selanjutnya diikuti oleh temuan-temuan lain yang pada intinya mengubah cara bekerja dan berproduksi di seluruh dunia.

Sedangkan Revolusi 4.0 saat ini dipakai untuk menjelaskan sebuah era dimana tren kecerdasan buatan menjadi sangat dominan dalam otomotatisasi dan pertukaran data pada teknologi manufaktur. Ini meliputi kehadiran internet serta cloud dan cognitive computing. Kecerdasan buatan tersebut diperkirakan akan terus melebar dan menentukan pada tiga bidang yang jadi dasarnya yaitu: fisikal, digital, dan biologikal. Untuk bidang fisikal terdiri atas otomatisasi kendaraan, 3D Printing, dan perkembangan robotik. Bidang digital ialah yang berkaitan dengan kemajuan internet dan bidang biologik yaitu proses rekayasa genetik buatan.

(7) Gunakan Metafora. Metafora dapat dengan cepat menghidupkan imajinasi pembaca. Dengan metafora yang tepat, hal-hal sulit menjadi lebih sederhana.

Per definisi, metafora adalah suatu gaya bahasa dalam karya sastra yang bermakna kiasan, dengan perbandingan langsung dengan objek lainnya. “Dunia ini panggung sandiwara,” yang pertama kali dipopulerkan oleh William Shakespeare, sering disebut sebagai metafora paling populer untuk menggambarkan peran manusia dalam kehidupan.

Dengan metafora, seorang penulis dapat menggunakan perbandingan analogis atas objek tulisannya dengan objek lain, yang bertujuan untuk memperjelas maksudnya. Partikel Tuhan yang disinggung di atas, merupakan sebuah metafora juga yang menganalogikan suatu partikel dalam Model Fisika dengan partikel atau zat Tuhan.

Metafora diyakini dapat menghidupkan tulisan, antara lain dengan cara menganalogikan konsep atau isu kering dan abstrak dengan sesuatu yang lebih dekat ke dalam kehidupan keseharian dan populer. Entah siapa yang memulainya, tetapi kata memompa dalam kalimat “Bank Indonesia memompa likuiditas ke pasar,” merupakan upaya brilian dalam menambah kesan gerak hidup pada instrumen kebijakan moneter, yang sering dipandang rumit dan membosankan.

Tujuh cara ini tidak harus dipraktikkan bersamaan tatkala ingin menjelaskan sesuatu. Tiap penulis dapat mengasah kapan ia akan menggunakan cara yang satu, kapan menggunakan cara yang lain. Atau ketika menemukan kebuntuan tatkala memakai cara metafora, misalnya, coba terobos dengan mencari etimologinya. Pada intinya yang ingin dikatakan ialah tidak ada hal sulit yang tidak dapat dijelaskan ketika Anda menulis. Oleh karena itu, semoga alasan ‘sulitnya menjelaskan sesuatu’ tidak lagi penghalang untuk menulis.

Ciputat, 10 Juni 2019

Eben Ezer Siadari

Bahan Bacaan